Selasa, 04 Juni 2013



Hidup tak berarah, dalam mimpi yang dalam nan jauh di atas mega. Sehingga semua orang meragukannya. Kesabaran ku tak hanya sampai disitu. Cinta ku terlalu sempurna memberi rasa dan asa dalam malam yang tak pernah padam. Dalam derita cinta manusia. Meleburkan harapan sampai pada titik kesakitan ku.
Penghinaan, pencacian merupakan makanan sehari-hariku. Aku sudah mulai mengerti dan sadar untuk selalu bergulat dengan tekad ku. Dalam kesendirian tanpa teman, sahabat, pacar, bahkan keluarga. Ayah ibu ku saja aku tak tak tahu siapa dan dimana. aku harus bagaimana aku juga tak tahu. Yang aku tahu bagaimana aku bisa melanjutkan hidup ku dan terus berlari dengan mimpi-mimpi ku.
Tak khayal banyak orang yang menertawai setiap aku mendiskripsikan mimpiku. Mereka menyengir mengolok-olok ku. “Kau tak akan bisa menjadi orang sukses, apalagi menjadi Insinyur. Lihat dirimu, jangan lah kau ikuti si cebol  yang ingin menggapai bulan.” Kata dari satu mereka. “hahhahha,” tawa mereka puas.
Aku hanya diam. Ya, aku mengakui memang aku tak seberuntung anak presiden obama atau anak David beckam ynag hidup dalam gelimang harta dan kasih sayang. Untuk sekolah saja pasti mereka sudah mempunyai fasilitas lebih dari cukup. Hal itu membuatku iri. Sangat iri. Tapi aku mencoba sabar aku yakin Allah pasti memberi ku jalan. Aku selalu berusaha untuk sabar dan kuat menghadapi kelamnya dunia ini. Aku cowok, aku lebih bisa menjaga diri dari pada cewek.
Ocehan mereka terkadang memberi beban untuk ku. Aku ragu-ragu untuk melangkah. Beruntung aku mempunyai seorang guru privat  yang selalu memberi aku dorongan untuk selalu maju. Aku tak pantang menyerah. Ku anggap cacian mereka sebagai penyemangat ku. Karena aku pernah membaca salah satu motivator hebat indonesia mengatakan semakin banyak caciaan dam makian itu menunjukkan mereka iri terhadap kemampuan kita sendiri. jadi sampai saat ini aku selalu tak berfikir anggapan mereka bagaimana yang penting aku  tak mengusik hidup mereka toh aku punya jalan sendiri yang harus kulalui.
Beruntung aku bertemu dengan Mbak Licia, yang selalu mendorong ku. Membantu ku dalam meraih mimpi ku. Menyekolahkan ku dan selalu menjadi tempat curahan hati ku. Di dunia ini yang aku punyai hany mbak licia. Orang yang mengerti aku dan perasaan ku. Ya aku sangat beruntung.
Orang-orang diluar sana sedang membicarakanku. Tentang kejelekanku. Aku dikira bencong karena sering main dengan mbak Licia dan teman-temanya. Tapi aku tak ambil pusing. Itu hak mereka. Terkadang aku sedih, saat tatapan mereka enggan melihat ku. Tak apa, itu suatu proses yang harus aku tempuh. Aku lebarkan senyumku setiap bertemu mereka walau hatiku terkadang terkikis perih. Tak ku acukan mereka.
Hidup ini keras sekeras batu yang padat. Aku selalu dan selalu untuk menghancurkan batu kehidupanku yang kelam. Hidupku sangat mengerikan teman saja aku tak punya. Aku sudah mulai tak percaya adanya teman semenjak aku dikianati sebuah pertemanan. Mereka hanya memanfaatkan aku untuk kepentingan mereka. aku selalu diacungkan. Mereka menganganggap ku sampah yang hanya bisa  digunakan bila ada manfaatnya saja. Mereka selalu menjujung tinggi aku. dengan mengatakan : “Aku teman kamu, sahabat baik kamu. Kita kan selalu bersama saat senang atau sedih,” kemudian mereka memeluk ku.
Setiap ingat kejadian itu aku selalu sedih. Sangat sedih ternyata itu hanya tipuan mereka. Aku terpuruk mereka tak tahu. Bahkan mereka sering membuat ku terpuruk dalam kesendirian. Yang jelas aku sudah tak percaya dengan kata sahabat dan teman. Aku tak percaya. Benar tak percaya air mata ku seakan ingin menetes. Sudah menumpuk dalam pelupuk mata. Tapi aku sembunyikan rasa kecewa ku. Terlalu tersenyum.
Aku melenggang jauh kedepan, penantian ku untuk bisa mendaptkan beasiswa keluar negeri pun tercapai. Mbak licia memberitahu aku dengan menunjukkan surat panggilan. Aku sangat senang walau sekolah ku hanya sekolah gubuk tapi kau bisa pergi keluar negeri, mbak licia memeluk ku sangat senang.
Kesempatan ini tak akan ku sia-siakan. Aku bersyukur. Doa ku dijawab-Nya. Seiring  berjalanya waktu aku melupakan semua sakit hati dan kecewa ku. Aku sangat bahagia rintisan ku untuk menjadi insinyur pun dimulai. Aku selalu berharap kelak bisa seperti mbak Licia yang  selalu menemani ku.

0 komentar:

Poskan Komentar